LAMPIRAN IV

 

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

REPUBLIK INDONESIA

 

NOMOR  81A  TAHUN 2013

 

TENTANG

 

IMPLEMENTASI KURIKULUM

 

PEDOMAN UMUM PEMBELAJARAN

 

 

I.         PENDAHULUAN

 

Pedoman Umum Pembelajaran mencakup kerangka konseptual dan operasional tentang: strategi pembelajaran, sistem kredit semester, penilaian hasil belajar, dan layanan bimbingan dan konseling. Cakupan pedoman tersebut dikembangkan dalam kerangka implementasi Kurikulum 2013.

 

Strategi pembelajaran sangat diperlukan dalam menunjang terwujudnya seluruh kompetensi yang dimuat dalam Kurikulum 2013. Dalam arti bahwa kurikulum memuat apa yang seharusnya diajarkan kepada peserta didik, sedangkan pembelajaran merupakan cara bagaimana apa yang diajarkan bisa dikuasai oleh peserta didik. Pelaksanaan pembelajaran didahului dengan penyiapan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang dikembangkan oleh guru baik secara individual maupun kelompok yang mengacu pada Silabus.

 

Sistem Kredit Semester (SKS) disiapkan untuk memfasilitasi satuan pendidikan dalam merintis atau melanjutkan pengelolaan kurikulum dengan menerapkan SKS sebagai perwujudan konsep belajar tuntas, yang memungkinkan peserta didik dapat belajar sesuai dengan kecepatan belajarnya.

 

Strategi penilaian disiapkan untuk memfasilitasi guru dalam mengembangkan pendekatan, teknik dan instrumen penilaian hasil belajar dengan pendekatan otentik Penilaian memungkinkan para pendidik mampu menerapkan program remedial bagi peserta didik yang tergolong pebelajar lambat dan program pengayaan bagi peserta didik yang termasuk kategori pebelajar cepat

 

Sedangkan substansi bimbingan dan konseling disiapkan untuk memfasilitasi satuan pendidikan dalam mewujudkan proses pendidikan yang memperhatikan dan menjawab ragam kemampuan, kebutuhan, dan minat sesuai dengan karakteristik peserta didik. Khusus untuk SMA/MA dan SMK/MAK) bimbingan dan konseling dimaksudkan untuk membantu satuan pendidikan dalam memfasilitasi peserta didik dalam memilih dan menetapkan program peminatan akademik bagi peserta didik SMA/MA dan peminatan vokasi bagi peserta didik SMK/MAK serta pemilihan mata pelajaran lintas peminatan khusus bagi peserta didik SMA/MA. Selain itu bimbingan dan konseling juga dimaksudkan untuk memfasilitasi guru bimbingan dan konseling (guru BK) atau konselor sekolah untuk menangani dan membantu peserta didik yang secara individual mengalami masalah psikologis atau psikososial, seperti sulit berkonsentrasi, rasa cemas, dan gejala perilaku menyimpang.


Dalam  konteks  konseptual  penjelasan  Pasal  77O  huruf  c  Peraturan Pemerintah Nomor  32 Tahun  2013 tentang Perubahan  Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan keempat substansi tersebut secara kurikuler dan pedagogik terkait erat dengan instrumentasi dan praksis pembelajaran dalam arti luas. Oleh karena itu, keempat substansi pedoman tersebut dikemas dalam satu pedoman yakni Pedoman Umum Pembelajaran.

 

 

II.        TUJUAN PEDOMAN

 

Pedoman ini dimaksudkan untuk:

 

1.     memfasilitasi guru secara individual dan kelompok dalam mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan melaksanakan pembelajaran dalam berbagai modus, strategi, dan model untuk muatan dan/atau mata pelajaran yang diampunya;

 

2.     memfasilitasi satuan pendidikan dalam merintis atau melanjutkan pengelolaan kurikulum dengan menerapkan sistem kredit semester sebagai perwujudan konsep belajar tuntas sesuai dengan kesiapan masing-masing;

 

3.     memfasilitasi guru secara individual atau kelompok dalam mengembangkan teknik dan instrumen penilaian hasil belajar dengan pendekatan otentik untuk muatan dan/atau mata pelajarannya; dan

 

4.     memfasilitasi satuan pendidikan dalam mewujudkan proses pendidikan sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minat sesuai karakteristik peserta didik dan dalam memfasilitasi peserta didik untuk memilih dan menetapkan program peminatan, serta memfasilitasi guru BK atau konselor sekolah untuk menangani dan membantu peserta didik yang secara individual mengalami masalah psikologis atau psikososial.

 

 

III.      PENGGUNA PEDOMAN

 

Pengguna pedoman ini mencakup pihak-pihak sebagai berikut.

 

1.     Guru secara individual atau kelompok guru (guru mata pelajaran, guru kelas, dan guru pembina kegiatan ekstrakurikuler);

 

2.     Pimpinan satuan pendidikan (kepala sekolah, wakil kepala sekolah, wali kelas);

 

3.     Guru bimbingan dan konseling atau konselor sekolah; dan

 

4.     Tenaga kependidikan (pengawas, pustakawan sekolah, pembina pramuka).

 

 

IV.    CAKUPAN PEDOMAN

 

Pedoman ini  mencakup substansi sebagai berikut.

 

1.     Konsep dan strategi pembelajaran sebagai dasar dan kerangka pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan pelaksanaa pembelajaran dalam berbagai modus, strategi, dan model.

 

2.     Konsep dan strategi penerapan Sistem Kredit Semester sebagai landasan bagi satuan pendidikan dalam merintis atau melanjutkan pengelolaan kurikulum dengan menerapkan sistem kredit semester.


 


 

3.     Konsep dan strategi penilaian sebagai dasar dan kerangka pengembangan teknik dan instrumen penilaian hasil belajar dengan pendekatan otentik.

 

4.     Konsep dan strategi pembimbingan dan konsultasi agar peserta didik mampu mengenali potensi diri dan akademik sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minat.

 

 

V.       KONSEP DAN STRATEGI PEMBELAJARAN

 

A.     Pandangan Tentang Pembelajaran

 

Secara prinsip, kegiatan pembelajaran merupakan proses pendidikan yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi mereka menjadi kemampuan yang semakin lama semakin meningkat dalam sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan dirinya untuk hidup dan untuk bermasyarakat, berbangsa, serta berkontribusi pada kesejahteraan hidup umat manusia. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran diarahkan untuk memberdayakan semua potensi peserta didik menjadi kompetensi yang diharapkan.

 

Lebih lanjut, strategi pembelajaran harus diarahkan untuk memfasilitasi pencapaian kompetensi yang telah dirancang dalam dokumen kurikulum agar setiap individu mampu menjadi pebelajar mandiri sepanjang hayat. dan yang pada gilirannya mereka menjadi komponen penting untuk mewujudkan masyarakat belajar. Kualitas lain yang dikembangkan kurikulum dan harus terealisasikan dalam proses pembelajaran antara lain kreativitas, kemandirian, kerja sama, solidaritas, kepemimpinan, empati, toleransi dan kecakapan hidup peserta didik guna membentuk watak serta meningkatkan peradaban dan martabat bangsa.

 

Untuk mencapai kualitas yang telah dirancang dalam dokumen kurikulum, kegiatan pembelajaran perlu menggunakan prinsip yang:

 

(1)     berpusat pada peserta didik, (2) mengembangkan kreativitas peserta didik, (3) menciptakan kondisi menyenangkan dan menantang,

 

(4)     bermuatan nilai, etika, estetika, logika, dan kinestetika, dan (5) menyediakan pengalaman belajar yang beragam melalui penerapan berbagai strategi dan metode pembelajaran yang menyenangkan, kontekstual, efektif, efisien, dan bermakna.

 

Di dalam pembelajaran, peserta didik didorong untuk menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan yang sudah ada dalam ingatannya, dan melakukan pengembangan menjadi informasi atau kemampuan yang sesuai dengan lingkungan dan jaman tempat dan waktu ia hidup. Kurikulum 2013 menganut pandangan dasar bahwa pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari guru ke peserta didik.

 

Peserta didik adalah subjek yang memiliki kemampuan untuk secara aktif mencari, mengolah, mengkonstruksi, dan menggunakan pengetahuan. Untuk itu pembelajaran harus berkenaan dengan kesempatan yang diberikan kepada peserta didik untuk mengkonstruksi pengetahuan dalam proses kognitifnya. Agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, peserta didik perlu didorong untuk bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, dan berupaya keras mewujudkan ide-idenya.


 

 


 

Guru memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan mengembangkan suasana belajar yang memberi kesempatan peserta didik untuk menemukan, menerapkan ide-ide mereka sendiri, menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru mengembangkan kesempatan belajar kepada peserta didik untuk meniti anak tangga yang membawa peserta didik kepemahaman yang lebih tinggi, yang semula dilakukan dengan bantuan guru tetapi semakin lama semakin mandiri. Bagi peserta didik, pembelajaran harus bergeser dari “diberi tahu” menjadi “aktif mencari tahu”.

 

Di dalam pembelajaran, peserta didik mengkonstruksi pengetahuan bagi dirinya. Bagi peserta didik, pengetahuan yang dimilikinya bersifat dinamis, berkembang dari sederhana menuju kompleks, dari ruang lingkup dirinya dan di sekitarnya menuju ruang lingkup yang lebih luas, dan dari yang bersifat konkrit menuju abstrak. Sebagai manusia yang sedang berkembang, peserta didik telah, sedang, dan/atau akan mengalami empat tahap perkembangan intelektual, yakni sensori motor, pra-operasional, operasional konkrit, dan operasional formal.

 

Secara umum jenjang pertama terjadi sebelum seseorang memasuki usia sekolah, jejang kedua dan ketiga dimulai ketika seseorang menjadi peserta didik di jenjang pendidikan dasar, sedangkan jenjang keempat dimulai sejak tahun kelima dan keenam sekolah dasar.

 

Proses pembelajaran terjadi secara internal pada diri peserta didik. Proses tersebut mungkin saja terjadi akibat dari stimulus luar yang diberikan guru, teman, lingkungan. Proses tersebut mungkin pula terjadi akibat dari stimulus dalam diri peserta didik yang terutama disebabkan oleh rasa ingin tahu. Proses pembelajaran dapat pula terjadi sebagai gabungan dari stimulus luar dan dalam. Dalam proses pembelajaran, guru perlu mengembangkan kedua stimulus pada diri setiap peserta didik.

 

Di dalam pembelajaran, peserta didik difasilitasi untuk terlibat secara aktif mengembangkan potensi dirinya menjadi kompetensi. Guru menyediakan pengalaman belajar bagi peserta didik untuk melakukan berbagai kegiatan yang memungkinkan mereka mengembangkan potensi yang dimiliki mereka menjadi kompetensi yang ditetapkan dalam dokumen kurikulum atau lebih. Pengalaman belajar tersebut semakin lama semakin meningkat menjadi kebiasaan belajar mandiri dan ajeg sebagai salah satu dasar untuk belajar sepanjang hayat.

 

Dalam suatu kegiatan belajar dapat terjadi pengembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan dalam kombinasi dan penekanan yang bervariasi. Setiap kegiatan belajar memiliki kombinasi dan penekanan yang berbeda dari kegiatan belajar lain tergantung dari sifat muatan yang dipelajari. Meskipun demikian, pengetahuan selalu menjadi unsur penggerak untuk pengembangan kemampuan lain.

 

 

B.    Pembelajaran Langsung dan Tidak Langsung

 

Kurikulum 2013 mengembangkan dua modus proses pembelajaran yaitu proses pembelajaran langsung dan proses pembelajaran tidak langsung. Proses pembelajaran langsung adalah proses pendidikan di mana peserta didik mengembangkan pengetahuan, kemampuan berpikir dan keterampilan psikomotorik melalui interaksi langsung dengan sumber belajar yang dirancang dalam silabus dan RPP berupa kegiatan-kegiatan pembelajaran. Dalam pembelajaran langsung tersebut peserta didik melakukan kegiatan belajar mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi atau menganalisis, dan mengkomunikasikan apa yang sudah ditemukannya dalam kegiatan analisis. Proses pembelajaran langsung menghasilkan pengetahuan dan keterampilan langsung atau yang disebut dengan instructional effect.

 

Pembelajaran tidak langsung adalah proses pendidikan yang terjadi selama proses pembelajaran langsung tetapi tidak dirancang dalam kegiatan khusus. Pembelajaran tidak langsung berkenaan dengan pengembangan nilai dan sikap. Berbeda dengan pengetahuan tentang nilai dan sikap yang dilakukan dalam proses pembelajaran langsung oleh mata pelajaran tertentu, pengembangan sikap sebagai proses pengembangan moral dan perilaku dilakukan oleh seluruh mata pelajaran dan dalam setiap kegiatan yang terjadi di kelas, sekolah, dan masyarakat. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran Kurikulum 2013, semua kegiatan yang terjadi selama belajar di sekolah dan di luar dalam kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler terjadi proses pembelajaran untuk mengembangkan moral dan perilaku yang terkait dengan sikap.

 

Baik pembelajaran langsung maupun pembelajaran tidak langsung terjadi secara terintegrasi dan tidak terpisah. Pembelajaran langsung berkenaan dengan pembelajaran yang menyangkut KD yang dikembangkan dari KI-3 dan KI-4. Keduanya, dikembangkan secara bersamaan dalam suatu proses pembelajaran dan menjadi wahana untuk mengembangkan KD pada KI-1 dan KI-2. Pembelajaran tidak langsung berkenaan dengan pembelajaran yang menyangkut KD yang dikembangkan dari KI-1 dan KI-2.

 

Proses pembelajaran terdiri atas lima pengalaman belajar pokok yaitu:

 

a.     mengamati;

 

b.     menanya;

 

c.      mengumpulkan informasi;

 

d.     mengasosiasi; dan

 

e.      mengkomunikasikan.

 

Kelima pembelajaran pokok tersebut dapat dirinci dalam berbagai kegiatan belajar sebagaimana tercantum dalam tabel berikut:

 

Tabel 1: Keterkaitan  antara  Langkah  Pembelajaran  dengan  Kegiatan

 

Belajar dan Maknanya.

 

LANGKAH

 

KOMPETENSI

 

KEGIATAN BELAJAR

YANG

 

PEMBELAJARAN

 

 

DIKEMBANGKAN

 

 

 

 

 

 

 

 

Mengamati

Membaca, mendengar,

Melatih

 

 

menyimak, melihat

kesungguhan,

 

 

(tanpa atau dengan alat)

ketelitian, mencari

 

 

 

informasi

 

 

 

 

 

Menanya

Mengajukan pertanyaan

Mengembangkan

 

 

tentang informasi yang

kreativitas, rasa

 

 

tidak dipahami dari apa

ingin tahu,

 

 

yang diamati atau

kemampuan

 

 

pertanyaan untuk

merumuskan

 

 

mendapatkan informasi

pertanyaan untuk

 

 

tambahan tentang apa

membentuk pikiran

 

 

yang diamati

kritis yang perlu

 


 

 

 

 

 

(dimulai dari pertanyaan

untuk hidup cerdas

 

 

faktual sampai ke

dan belajar

 

 

pertanyaan yang bersifat

sepanjang hayat

 

 

hipotetik)

 

 

 

 

 

 

Mengumpulkan

- melakukan eksperimen

Mengembangkan

 

informasi/

- membaca sumber lain

sikap teliti,

 

eksperimen

selain buku teks

jujur,sopan,

 

 

- mengamati objek/

menghargai

 

 

pendapat orang

 

 

kejadian/

 

 

lain, kemampuan

 

 

- aktivitas

 

 

berkomunikasi,

 

 

- wawancara dengan nara

 

 

menerapkan

 

 

sumber

kemampuan

 

 

 

 

 

 

mengumpulkan

 

 

 

informasi melalui

 

 

 

berbagai cara yang

 

 

 

dipelajari,

 

 

 

mengembangkan

 

 

 

kebiasaan belajar

 

 

 

dan belajar

 

 

 

sepanjang hayat.

 

 

 

 

 

Mengasosiasikan/

- mengolah informasi

Mengembangkan

 

mengolah informasi

yang sudah

sikap jujur, teliti,

 

 

dikumpulkan baik

disiplin,  taat

 

 

terbatas dari hasil

aturan, kerja keras,

 

 

kegiatan

kemampuan

 

 

mengumpulkan/eksperi

menerapkan

 

 

men mau pun hasil dari

prosedur dan

 

 

kegiatan mengamati

kemampuan

 

 

dan kegiatan

berpikir induktif

 

 

mengumpulkan

serta deduktif

 

 

informasi.

dalam

 

 

- Pengolahan informasi

menyimpulkan .

 

 

yang dikumpulkan dari

 

 

 

yang bersifat

 

 

 

menambah keluasan

 

 

 

dan kedalaman sampai

 

 

 

kepada pengolahan

 

 

 

informasi yang bersifat

 

 

 

mencari solusi dari

 

 

 

berbagai sumber yang

 

 

 

memiliki pendapat yang

 

 

 

berbeda sampai kepada

 

 

 

yang bertentangan

 

 

 

 

 

 

Mengkomunikasikan

Menyampaikan hasil

Mengembangkan

 

 

pengamatan, kesimpulan

sikap jujur, teliti,

 

 

berdasarkan hasil

toleransi,

 

 

analisis secara lisan,

kemampuan

 

 

tertulis, atau media

berpikir sistematis,

 

 

lainnya

mengungkapkan

 

 

 

pendapat dengan

 


LANGKAH

 

KOMPETENSI

 

KEGIATAN BELAJAR

YANG

 

PEMBELAJARAN

 

 

DIKEMBANGKAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

singkat dan jelas,

 

 

 

dan

 

 

 

mengembangkan

 

 

 

kemampuan

 

 

 

berbahasa yang

 

 

 

baik dan benar.

 

 

 

 

 

 

C.    Perencanaan Pembelajaran

 

Tahap pertama dalam pembelajaran menurut standar proses yaitu perencanaan pembelajaran yang diwujudkan dengan kegiatan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).

 

1.     Hakikat RPP

 

Rencana pelaksanaan pembelajaran adalah rencana pembelajaran yang dikembangkan secara rinci dari suatu materi pokok atau tema tertentu yang mengacu pada silabus. RPP mencakup: (1) data sekolah, matapelajaran, dan kelas/semester; (2) materi pokok; (3) alokasi waktu; (4) tujuan pembelajaran, KD dan indikator pencapaian kompetensi; (5) materi pembelajaran; metode pembelajaran; (6) media, alat dan sumber belajar; (6) langkah-langkah kegiatan pembelajaran; dan (7) penilaian.

 

Setiap guru di setiap satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP untuk kelas di mana guru tersebut mengajar (guru kelas) di SD dan untuk guru matapelajaran yang diampunya untuk guru SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK. Pengembangan RPP dapat dilakukan pada setiap awal semester atau awal tahun pelajaran, dengan maksud agar RPP telah tersedia terlebih dahulu dalam setiap awal pelaksanaan pembelajaran. Pengembangan RPP dapat dilakukan secara mandiri atau secara berkelompok.

 

Pengembangan RPP yang dilakukan oleh guru secara mandiri dan/atau secara bersama-sama melalui musyawarah guru MATA pelajaran (MGMP) di dalam suatu sekolah tertentu difasilitasi dan disupervisi kepala sekolah atau guru senior yang ditunjuk oleh kepala sekolah.

 

Pengembangan RPP yang dilakukan oleh guru secara berkelompok melalui MGMP antarsekolah atau antarwilayah dikoordinasikan dan disupervisi oleh pengawas atau dinas pendidikan.

 

2.     Prinsip-Prinsip Pengembangan RPP

 

Berbagai prinsip dalam mengembangkan atau menyusun RPP adalah sebagai berikut.

 

a.     RPP disusun guru sebagai terjemahan dari ide kurikulum dan berdasarkan silabus yang telah dikembangkan di tingkat nasional ke dalam bentuk rancangan proses pembelajaran untuk direalisasikan dalam pembelajaran.

 

b.     RPP dikembangkan guru dengan menyesuaikan apa yang dinyatakan dalam silabus dengan kondisi di satuan pendidikan baik kemampuan awal peserta didik, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik.

 

c.     Mendorong partisipasi aktif peserta didik

 

d.     Sesuai dengan tujuan Kurikulum 2013 untuk menghasilkan peserta didik sebagai manusia yang mandiri dan tak berhenti belajar, proses pembelajaran dalam RPP dirancang dengan berpusat pada peserta didik untuk mengembangkan motivasi, minat, rasa ingin tahu, kreativitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian, semangat belajar, keterampilan belajar dan kebiasaan belajar.

 

e.     Mengembangkan budaya membaca dan menulis

 

f.      Proses pembelajaran dalam RPP dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan.

 

g.     Memberikan umpan balik dan tindak lanjut.

 

h.    RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi. Pemberian pembelajaran remedi dilakukan setiap saat setelah suatu ulangan atau ujian dilakukan, hasilnya dianalisis, dan kelemahan setiap peserta didik dapat teridentifikasi. Pemberian pembelajaran diberikan sesuai dengan kelemahan peserta didik.

 

i.      Keterkaitan dan keterpaduan.

 

j.      RPP disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara KI dan KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar. RPP disusun dengan mengakomodasikan pembelajaran tematik, keterpaduan lintas matapelajaran untuk sikap dan keterampilan, dan keragaman budaya.

 

k.     Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi

 

l.      RPP disusun dengan mempertimbangkan penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.

 

3.     Komponen dan Sistematika RPP

 

RPP paling sedikit memuat: (i) tujuan pembelajaran, (ii) materi pembelajaran, (iii) metode pembelajaran, (iv) sumber belajar, dan

(v) penilaian.

 

Komponen-komponen tersebut secara operasional diwujudkan dalam bentuk format berikut ini.

 

 

Sekolah                                   :

 

Matapelajaran                      :

 

Kelas/Semester                    :

 

Materi Pokok                         :

 

Alokasi Waktu                       :


 

 

 


A.     Kompetensi Inti (KI)

 

B.     Kompetensi Dasar dan Indikator

 

1.     _____________ (KD pada KI-1)

 

2.     _____________ (KD pada KI-2)

 

3.     _____________ (KD pada KI-3) Indikator: __________________

 

4.     _____________ (KD pada KI-4)

 

Indikator: __________________

 

 

Catatan:

KD-1 dan KD-2 dari KI-1 dan KI-2 tidak harus dikembangkan dalam indikator karena keduanya dicapai melalui proses pembelajaran yang tidak langsung. Indikator dikembangkan hanya untuk KD-3 dan KD-4 yang dicapai melalui proses pembelajaran langsung.

C.    Tujuan Pembelajaran

 

D.    Materi  Pembelajaran (rincian dari Materi Pokok)

 

E.    Metode Pembelajaran (Rincian dari Kegiatan Pembelajaran)

 

F.     Media, Alat, dan Sumber Pembelajaran

 

1.    Media

 

2.    Alat/Bahan

 

3.    Sumber Belajar

 

G.    Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran

 

1.  Pertemuan Kesatu:

 

a.     Pendahuluan/Kegiatan Awal (…menit)

 

b.     Kegiatan Inti (...menit)

 

c.     Penutup (…menit)

 

2.  Pertemuan Kedua:

 

a.     Pendahuluan/Kegiatan Awal (…menit)

 

b.     Kegiatan Inti (...menit)

 

c.     Penutup (…menit), dan seterusnya.

 

H.    Penilaian

 

1.  Jenis/teknik penilaian

 

2.  Bentuk instrumen dan instrumen

 

3.  Pedoman penskoran

 

 

 

4.     Langkah-Langkah Pengembangan RPP

 

a.     Mengkaji Silabus

 

Secara umum, untuk setiap materi pokok pada setiap silabus terdapat 4 KD sesuai dengan aspek KI (sikap kepada Tuhan, sikap diri dan terhadap lingkungan, pengetahuan, dan keterampilan). Untuk mencapai 4 KD tersebut, di dalam silabus dirumuskan kegiatan peserta didik secara umum dalam pembelajaran berdasarkan standar proses. Kegiatan peserta didik ini merupakan rincian dari eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi, yakni: mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengolah dan mengkomunikasikan. Kegiatan inilah yang harus dirinci lebih lanjut di dalam RPP, dalam bentuk langkah-langkah yang dilakukan guru dalam pembelajaran, yang membuat peserta didik aktif belajar. Pengkajian terhadap silabus juga meliputi perumusan indikator KD dan penilaiannya.

 

b.     Mengidentifikasi Materi Pembelajaran

 

Mengidentifikasi materi pembelajaran yang menunjang pencapaian KD dengan mempertimbangkan:

 

1)  potensi peserta didik;

 

2)  relevansi dengan karakteristik daerah,

 

3)  tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta didik;

 

4)  kebermanfaatan bagi peserta didik;

 

5)  struktur keilmuan;

 

6)  aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;

 

7)  relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan

 

8)  alokasi waktu.

 

c.     Menentukan Tujuan

 

Tujuan dapat diorganisasikan mencakup seluruh KD atau diorganisasikan untuk setiap pertemuan. Tujuan mengacu pada indikator, paling tidak mengandung dua aspek: Audience

 

(peserta didik) dan Behavior (aspek kemampuan).

 

d.     Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran

 

Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian KD. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik.

 

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut.

 

1)  Kegiatan pembelajaran disusun untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru, agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara profesional.

 

2)  Kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan manajerial yang dilakukan guru, agar peserta didik dapat melakukan kegiatan seperti di silabus.

 

3)  Kegiatan pembelajaran untuk setiap pertemuan merupakan skenario langkah-langkah guru dalam membuat peserta didik aktif belajar. Kegiatan ini diorganisasikan menjadi kegiatan: Pendahuluan, Inti, dan Penutup. Kegiatan inti dijabarkan lebih lanjut menjadi rincian dari kegiatan


 


 

eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi, yakni: mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasikan, dan mengkomunikasikan. Untuk pembelajaran yang bertujuan menguasai prosedur untuk melakukan sesuatu, kegiatan pembelajaran dapat berupa pemodelan/demonstrasi oleh guru atau ahli, peniruan oleh peserta didik, pengecekan dan pemberian umpan balik oleh guru, dan pelatihan lanjutan.

 

e.     Penjabaran Jenis Penilaian

 

Di dalam silabus telah ditentukan jenis penilaiannya. Penilaian pencapaian KD peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan nontes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri. Oleh karena pada setiap pembelajaran peserta didik didorong untuk menghasilkan karya, maka penyajian portofolio merupakan cara penilaian yang harus dilakukan untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah.

 

Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.

 

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merancang penilaian yaitu sebagai berikut:

 

1)  Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi yaitu KD-KD pada KI-3 dan KI-4.

 

2)  Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya.

 

3)  Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan KD yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui kesulitan peserta didik.

 

4)  Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Tindak lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, program remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah ketuntasan, dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi ketuntasan.

 

5)  Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses misalnya teknik wawancara, maupun produk berupa hasil melakukan observasi lapangan.


 

 

f.      Menentukan Alokasi Waktu

 

Penentuan alokasi waktu pada setiap KD didasarkan pada jumlah minggu efektif dan alokasi waktu matapelajaran per minggu dengan mempertimbangkan jumlah KD, keluasan, kedalaman, tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan KD. Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu rerata untuk menguasai KD yang dibutuhkan oleh peserta didik yang beragam. Oleh karena itu, alokasi tersebut dirinci dan disesuaikan lagi di RPP.

 

g.        Menentukan Sumber Belajar

 

Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran, yang berupa media cetak dan elektronik, nara sumber, serta lingkungan fisik, alam, sosial, dan budaya.

 

 

D.    Proses Pembelajaran

 

Tahap kedua dalam pembelajaran menurut standar proses yaitu pelaksanaan pembelajaran yang meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.

 

1.     Kegiatan Pendahuluan

 

Dalam kegiatan pendahuluan, guru:

 

a.     menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran;

 

b.     mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang sudah dipelajari dan terkait dengan materi yang akan dipelajari;

 

c.     mengantarkan peserta didik kepada suatu permasalahan atau tugas yang akan dilakukan untuk mempelajari suatu materi dan menjelaskan tujuan pembelajaran atau KD yang akan dicapai; dan

 

d.     menyampaikan garis besar cakupan materi dan penjelasan tentang kegiatan yang akan dilakukan peserta didik untuk menyelesaikan permasalahan atau tugas.

 

2.     Kegiatan Inti

 

Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai tujuan, yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk secara aktif menjadi pencari informasi, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

 

Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan matapelajaran, yang meliputi proses observasi, menanya, mengumpulkan informasi, asosiasi, dan komunikasi. Untuk pembelajaran yang berkenaan dengan KD yang bersifat prosedur untuk melakukan sesuatu, guru memfasilitasi agar peserta didik dapat melakukan pengamatan terhadap pemodelan/demonstrasi oleh guru atau ahli, peserta didik menirukan, selanjutnya guru melakukan pengecekan dan pemberian umpan balik, dan latihan lanjutan kepada peserta didik.



 

Dalam setiap kegiatan guru harus memperhatikan kompetensi yang terkait dengan sikap seperti jujur, teliti, kerja sama, toleransi, disiplin, taat aturan, menghargai pendapat orang lain yang tercantum dalam silabus dan RPP. Cara pengumpulan data sedapat mungkin relevan dengan jenis data yang dieksplorasi, misalnya di laboratorium, studio, lapangan, perpustakaan, museum, dan sebagainya. Sebelum menggunakannya peserta didik harus tahu dan terlatih dilanjutkan dengan menerapkannya.

 

Berikutnya adalah contoh aplikasi dari kelima kegiatan belajar (learning event) yang diuraikan dalam tabel 1 di atas.

 

a.  Mengamati

 

Dalam kegiatan mengamati, guru membuka secara luas dan bervariasi kesempatan peserta didik untuk melakukan pengamatan melalui kegiatan: melihat, menyimak, mendengar, dan membaca. Guru memfasilitasi peserta didik untuk melakukan pengamatan, melatih mereka untuk memperhatikan (melihat, membaca, mendengar) hal yang penting dari suatu benda atau objek.

 

b.     Menanya

 

Dalam kegiatan mengamati, guru membuka kesempatan secara luas kepada peserta didik untuk bertanya mengenai apa yang sudah dilihat, disimak, dibaca atau dilihat. Guru perlu membimbing peserta didik untuk dapat mengajukan pertanyaan: pertanyaan tentang yang hasil pengamatan objek yang konkrit sampai kepada yang abstra berkenaan dengan fakta, konsep, prosedur, atau pun hal lain yang lebih abstrak. Pertanyaan yang bersifat faktual sampai kepada pertanyaan yang bersifat hipotetik.

 

Dari situasi di mana peserta didik dilatih menggunakan pertanyaan dari guru, masih memerlukan bantuan guru untuk mengajukan pertanyaan sampai ke tingkat di mana peserta didik mampu mengajukan pertanyaan secara mandiri.

 

Dari kegiatan kedua dihasilkan sejumlah pertanyaan. Melalui kegiatan bertanya dikembangkan rasa ingin tahu peserta didik.

 

Semakin terlatih dalam bertanya maka rasa ingin tahu semakin dapat dikembangkan.

 

Pertanyaan terebut menjadi dasar untuk mencari informasi yang lebih lanjut dan beragam dari sumber yang ditentukan guru sampai yang ditentukan peserta didik, dari sumber yang tunggal sampai sumber yang beragam.

 

c.     Mengumpulkan dan mengasosiasikan

 

Tindak lanjut dari bertanya adalah menggali dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber melalui berbagai cara. Untuk itu peserta didik dapat membaca buku yang lebih banyak, memperhatikan fenomena atau objek yang lebih teliti, atau bahkan melakukan eksperimen. Dari kegiatan tersebut terkumpul sejumlah informasi.

 

Informasi tersebut menjadi dasar bagi kegiatan berikutnya yaitu memeroses informasi untuk menemukan keterkaitan satu informasi dengan informasi lainnya, menemukan pola dari keterkaitan informasi dan bahkan mengambil berbagai kesimpulan dari pola yang ditemukan.


 

d.     Mengkomunikasikan hasil

 

Kegiatan berikutnya adalah menuliskan atau menceritakan apa yang ditemukan dalam kegiatan mencari informasi, mengasosiasikan dan menemukan pola. Hasil tersebut disampikan di kelas dan dinilai oleh guru sebagai hasil belajar peserta didik atau kelompok peserta didik tersebut.

 

3.     Kegiatan Penutup

 

Dalam kegiatan penutup, guru bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran, melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram, memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran, merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik, dan menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

 

Perlu diingat, bahwa KD-KD diorganisasikan ke dalam empat KI.

KI-1 berkaitan dengan sikap diri terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

 

KI-2 berkaitan dengan karakter diri dan sikap sosial. KI-3 berisi KD tentang pengetahuan terhadap materi ajar, sedangkan KI-4 berisi KD tentang penyajian pengetahuan. KI-1, KI-2, dan KI-4 harus dikembangkan dan ditumbuhkan melalui proses pembelajaran setiap materi pokok yang tercantum dalam KI-3, untuk semua matapelajaran. KI-1 dan KI-2 tidak diajarkan langsung, tetapi indirect teaching pada setiap kegiatan pembelajaran.

 

 

VI.    KONSEP DAN STRATEGI PENERAPAN SISTEM KREDIT SEMESTER

 

A.     Konsep Sistem Kredit Semester

 

Sistem Kredit Semester (SKS) adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya menentukan sendiri beban belajar dan mata pelajaran yang diikuti setiap semester pada satuan pendidikan.

 

Beban belajar setiap mata pelajaran pada SKS dinyatakan dalam satuan kredit semester (sks). Beban belajar satu sks meliputi satu jam pembelajaran tatap muka, satu jam penugasan terstruktur, dan satu jam kegiatan mandiri.

 

 

B.    Komponen Sistem Kredit Semester

 

1.     Prinsip

 

Penyelenggaraan SKS di SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK mengacu pada prinsip sebagai berikut.

 

a.     Peserta didik menentukan sendiri beban belajar dan mata pelajaran yang diikuti pada setiap semester sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya.

 

b.     Peserta didik yang berkemampuan dan berkemauan tinggi dapat mempersingkat waktu penyelesaian studinya dari periode belajar yang ditentukan dengan tetap memperhatikan ketuntasan belajar.



 

c.     Peserta didik didorong untuk memberdayakan dirinya sendiri dalam belajar secara mandiri.

 

d.     Peserta didik dapat menentukan dan mengatur strategi belajar dengan lebih fleksibel.

 

e.     Peserta didik memiliki kesempatan untuk memilih kelompok peminatan, lintas minat, dan pendalaman minat, serta mata pelajaran sesuai dengan potensinya.

 

f.      Peserta didik dapat pindah ke sekolah lain yang sejenis dan telah menggunakan SKS dan semua kredit yang telah diambil dapat dipindahkan ke sekolah yang baru (transfer kredit).

 

g.     Sekolah menyediakan sumber daya pendidikan yang lebih memadai secara teknis dan administratif.

 

h.    Penjadwalan kegiatan pembelajaran diupayakan dapat memenuhi kebutuhan untuk pengembangan potensi peserta didik yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

 

i.      Guru memfasilitasi kebutuhan akademik peserta didik sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya.

 

j.      Persyaratan Penyelenggaraan.

 

Satuan pendidikan SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK yang terakreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M) dapat menyelenggarakan SKS.

 

Penyelenggaraan SKS pada setiap satuan pendidikan dilakukan dengan tetap mempertimbangkan ketuntasan minimal dalam pencapaian setiap kompetensi.

 

2.     Unsur-unsur Beban Belajar

 

Beban belajar setiap mata pelajaran pada SKS dinyatakan dalam sks. Beban belajar satu sks meliputi satu jam pembelajaran tatap muka, satu jam penugasan terstruktur, dan satu jam kegiatan mandiri, yang pengertiannya sebagai berikut

 

a.     Kegiatan tatap muka adalah kegiatan pembelajaran yang berupa proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik.

 

b.     Kegiatan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai kompetensi dasar. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh pendidik.

 

c.      Kegiatan mandiri adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman materi pembelajaran oleh peserta didik yang dirancang oleh pendidik untuk mencapai kompetensi dasar. Waktu penyelesaiannya diatur oleh peserta didik atas dasar kesepakatan dengan pendidik.

 

3.     Cara Menetapkan Beban Belajar

 

Penetapan  beban  belajar  sks  untuk  SMP/MTs,  SMA/MA,  dan

SMK/MAK ditetapkan sebagai berikut:

 

a.     Beban belajar kegiatan tatap muka per jam pembelajaran pada:

 

1)     SMP/MTs  berlangsung selama 40 menit;

 

2)     SMA/MA  berlangsung selama 45 menit;

 

3)     SMK/MAK  berlangsung selama 45 menit.



 

b.     Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri bagi peserta didik pada SMP/MTs maksimum 50% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan.

 

c.      Waktu untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri bagi peserta didik pada SMA/MA/SMK/MAK maksimum 60% dari jumlah waktu kegiatan tatap muka dari mata pelajaran yang bersangkutan.

 

Dengan demikian, cara menetapkan beban belajar sks untuk SMP/MTs dan SMA/MA masing-masing adalah sebagai berikut:

 

a.     Penetapan Beban Belajar sks untuk SMP/MTs

 

Sebelum menetapkan beban belajar sks untuk SMP/MTs yaitu memadukan semua komponen beban belajar, baik untuk

 

Sistem Paket maupun untuk SKS, sebagaimana yang tercantum dalam Tabel 1.

 

Tabel 1: Penetapan Beban Belajar sks di SMP/MTs berdasarkan pada Sistem Paket

 

 

Kegiatan

 

 

Sistem Paket

 

 

Sistem SKS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tatap Muka

 

 

40 menit

 

 

40 menit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penugasan Terstruktur

 

 

50% x 40 menit =

 

 

40 menit

 

 

 

 

 

 

20 menit

 

 

 

 

 

 

Kegiatan Mandiri

 

 

 

 

40 menit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jumlah

 

 

60 menit

 

 

120 menit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan pada Tabel 1 dapat dijelaskan lebih lanjut bahwa untuk menetapkan beban belajar 1 sks yaitu dengan formula sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

Dengan demikian, beban belajar sks untuk SMP/MTs dengan mengacu pada rumus tersebut dapat ditetapkan bahwa setiap pembelajaran dengan beban belajar 1 sks pada SKS sama dengan beban belajar 2 jam pembelajaran pada Sistem Paket. Agar lebih jelas lagi, dalam Tabel 2 disajikan contoh konversi kedua jenis beban pembelajaran tersebut.

 

Tabel 2:  Contoh Konversi Beban Belajar di

SMP/MTs

 

 

 

Sistem Paket

 

SKS

 

 

 

2 jam pembelajaran

 

1 sks

 

 

 

4 jam pembelajaran

 

2 sks

 

 

 

6 jam pembelajaran

 

3 sks

 

 

 

8 jam pembelajaran

 

4 sks

 

 

 



b.     Penetapan Beban Belajar sks untuk SMA/MA dan SMK/MAK

 

Sebelum menetapkan beban belajar sks untuk SMA/MA yaitu memadukan semua komponen beban belajar, baik untuk Sistem Paket maupun untuk SKS, sebagaimana yang tercantum dalam Tabel 3.

 

Tabel 3: Penetapan Beban Belajar sks di SMA/MA dan SMK/MAK berdasarkan pada Sistem Paket

 

 

Kegiatan

 

 

Sistem Paket

 

 

Sistem SKS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tatap muka

 

 

45 menit

 

 

45 menit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penugasan terstruktur

 

 

60% x 45 menit =

 

 

45 menit

 

 

 

 

 

 

27 menit

 

 

 

 

 

 

Kegiatan mandiri

 

 

 

 

45 menit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jumlah

 

 

72 menit

 

 

135 menit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan pada Tabel 3 dapat dijelaskan lebih lanjut bahwa untuk menetapkan beban belajar 1 sks yaitu dengan formula sebagai berikut:

 

 

 

 

 

Dengan demikian, beban belajar sks untuk SMA/MA dengan mengacu pada rumus tersebut dapat ditetapkan bahwa setiap pembelajaran dengan beban belajar 1 sks pada SKS sama dengan beban belajar 1.88 jam pembelajaran pada Sistem Paket. Agar lebih jelas lagi, dalam Tabel 4 disajikan contoh konversi kedua jenis beban pembelajaran tersebut.

 

Tabel 4:  Contoh  Konversi  Beban  Belajar  di

SMA/MA  dan

SMK/MAK

 

 

Sistem Paket

 

SKS

 

 

 

 

 

1.88 jam pembelajaran

 

1 sks

 

 

 

 

 

3.76 jam pembelajaran

 

2 sks

 

 

 

 

 

5.64 jam pembelajaran

 

3 sks

 

 

 

 

 

7.52 jam pembelajaran

 

4 sks

 

 

 

 

 

 

4.     Beban Belajar Minimal

 

Agar proses pembelajaran di setiap satuan pendidikan yang menggunakan SKS dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien perlu ditetapkan batas minimal beban belajar sks sebagai berikut:

 

a.     Beban  belajar  yang  harus  ditempuh  oleh  peserta  didik

 

SMP/MTs yaitu minimal 114 sks, yang dapat ditempuh paling cepat 2 tahun (4 semester) dan paling lama 5 tahun (10 semester).


 

 

 

 


 

b.     Beban belajar yang harus ditempuh oleh peserta didik SMA/MA yaitu minimal 130 sks, yang dapat ditempuh paling cepat 2 tahun (4 semester) dan paling lama 5 tahun (10 semester).

 

c.      Beban belajar yang harus ditempuh oleh peserta didik SMK/MAK yaitu minimal 144 sks, yang dapat ditempuh paling cepat 2 tahun (4 semester) dan paling lama 5 tahun (10 semester).

 

5.     Komposisi Beban Belajar

 

Komposisi beban belajar di SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK adalah sebagai berikut:

 

a.     Komposisi beban belajar untuk peserta didik SMP/MTs terdiri atas kelompok A (wajib) dan B (wajib) .

 

b.     Komposisi beban belajar untuk peserta didik SMA/MA terdiri atas kelompok A (wajib), B (wajib), dan salah satu dari kelompok C (peminatan), serta lintas minat dan/atau pendalaman minat.

 

c.      Komposisi beban belajar untuk peserta didik SMK/MAK terdiri atas kelompok A (wajib), B (wajib), C1 (kelompok mata pelajaran bidang keahlian), C2 (kelompok mata pelajaran dasar program keahlian), dan salah satu dari C3 (kelompok mata pelajaran paket keahlian).

 

6.     Kriteria Pengambilan Beban Belajar

 

Kriteria yang digunakan dalam pengambilan beban belajar adalah sebagai berikut:

 

a.     Fleksibilitas dalam SKS yaitu peserta didik diberi keleluasaan untuk menentukan beban belajar pada setiap semester.

 

b.     Pengambilan beban belajar oleh peserta didik didampingi oleh

 

Pembimbing Akademik.

 

c.      Kriteria yang digunakan untuk menentukan beban belajar bagi peserta didik yaitu:

 

1)     pengambilan beban belajar (jumlah sks) pada semester 1 sesuai dengan prestasi yang dicapai pada satuan pendidikan sebelumnya atau hasil tes seleksi masuk dan/atau penempatan peserta didik baru;

 

2)     pengambilan beban belajar (jumlah sks) semester berikutnya ditentukan berdasarkan Indeks Prestasi (IP) yang diperoleh pada semester sebelumnya.

 

3)     Peserta didik wajib menyelesaikan mata pelajaran yang tertuang dalam Struktur Kurikulum.

 

4)     Satuan pendidikan dapat mengatur penyajian mata pelajaran secara tuntas dengan prinsip ”on and off”, yaitu suatu mata pelajaran bisa diberikan hanya pada semester tertentu dengan mempertimbangkan ketuntasan kompetensi pada setiap semester.

 

7.     Penilaian, Penentuan Indeks Prestasi, dan Kelulusan

 

Pengaturan mengenai penilaian, penentuan indeks prestasi, dan kelulusan adalah sebagaimana diuraikan di bawah ini.


 

a.  Penilaian

1)  Penilaian setiap  mata  pelajaran meliputi kompetensi pengetahuan,  kompetensi  keterampilan,  dan  kompetensi sikap. Kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan  menggunakan  skala  1–4  (kelipatan  0.33), sedangkan kompetensi sikap menggunakan skala Sangat Baik (SB), Baik (B), Cukup (C), dan Kurang (K), yang dapat dikonversi ke dalam Predikat A - D seperti pada Tabel 5 di bawah ini.

 

Tabel 5: Konversi Kompetensi Pengetahuan, Keterampilan, dan Sikap

 

 

Predikat

 

 

Nilai Kompetensi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengetahuan

 

 

Keterampilan

 

 

Sikap

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

A

4

 

4

 

 

SB

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

A-

3.66

 

3.66

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B+

3.33

 

3.33

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B

 

 

 

B

3

 

3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B-

2.66

 

2.66

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

C+

2.33

 

2.33

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

C

 

 

 

C

2

 

2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

C-

1.66

 

1.66

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

D+

1.33

 

1.33

 

 

K

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

D

1

 

1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2)     Ketuntasan minimal untuk seluruh kompetensi dasar pada kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan yaitu 2.66 (B-)

 

3)     Pencapaian minimal untuk kompetensi sikap adalah B.

 

Untuk kompetensi yang belum tuntas, kompetensi tersebut dituntaskan melalui pembelajaran remedial sebelum melanjutkan pada kompetensi berikutnya.

 

Untuk mata pelajaran yang belum tuntas pada semester berjalan, dituntaskan melalui pembelajaran remedial sebelum memasuki semester berikutnya.

 

b.     Penentuan Indeks Prestasi (IP)

 

1)       SMP/MTs

 

a)     IP merupakan rata-rata dari gabungan hasil penilaian kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan yang masing-masing dihitung dengan rumus sebagai berikut:



 


Keterangan:

 

IP : Indeks Prestasi

 

ΣN : Jumlah mata pelajaran

 

sks : Satuan kredit semester yang diambil untuk setiap mata pelajaran

 

Jumlah sks : jumlah sks dalam satu semester

 

b)     Peserta didik pada semester 2 dan seterusnya dapat mengambil sejumlah mata pelajaran dengan jumlah sks berdasarkan IP semester sebelumnya dengan ketentuan sebagai berikut:

 

(1)   IP <  2.66 dapat mengambil maksimal 20 sks.

 

(2)   IP 2.66 – 3.32 dapat mengambil maksimal 24 sks.

 

(3)   IP 3.33 – 3.65 dapat mengambil maksimal 28 sks.

 

(4)   IP > 3.65 dapat mengambil maksimal 32 sks.

 

Selain itu, nilai kompetensi sikap paling rendah B.

 

2)    SMA/MA

 

a)     IP merupakan rata-rata dari gabungan hasil penilaian kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan yang masing-masing dihitung dengan rumus sebagai berikut:


 

 

Keterangan:

 

IP : Indeks Prestasi

 

ΣN : Jumlah mata pelajaran

 

sks : Satuan kredit semester yang diambil untuk setiap mata pelajaran

 

Jumlah sks : jumlah sks dalam satu semester

 

b)     Peserta didik pada semester 2 dan seterusnya dapat mengambil sejumlah mata pelajaran dengan jumlah sks berdasarkan IP semester sebelumnya dengan ketentuan sebagai berikut:

 

(1)   IP < 2.66 dapat mengambil maksimal 24 sks.

 

(2)   IP 2.66 – 3.32 dapat mengambil maksimal 28 sks.

 

(3)   IP 3.33 – 3.65 dapat mengambil maksimal 32 sks.

 

(4)   IP > 3.65 dapat mengambil maksimal 36 sks.

Selain itu, nilai kompetensi sikap paling rendah B.


 

 

 

 


3)     SMK/MAK

 

a)     IP merupakan rata-rata dari gabungan hasil penilaian kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan yang masing-masing dihitung dengan rumus sebagai berikut:


 

 

 

Keterangan:

 

IP : Indeks Prestasi

 

ΣN : Jumlah mata pelajaran

 

sks : Satuan kredit semester yang diambil untuk setiap mata pelajaran

 

Jumlah sks : jumlah sks dalam satu semester

 

b)     Peserta didik pada semester 2 dan seterusnya dapat mengambil sejumlah mata pelajaran dengan jumlah sks berdasarkan IP semester sebelumnya dengan ketentuan sebagai berikut:

 

(1)   IP < 2.66 dapat mengambil maksimal 28 sks.

 

(2)   IP 2.66 – 3.32 dapat mengambil maksimal 32 sks.

 

(3)   IP 3.33 – 3.65 dapat mengambil maksimal 36 sks.

 

(4)   IP > 3.66 dapat mengambil maksimal 40 sks.

 

Selain itu, nilai kompetensi sikap paling rendah B.

 

c.     Kelulusan

 

Peserta didik dapat memanfaatkan semester pendek hanya untuk mengulang mata pelajaran yang belum tuntas. Bagi yang sudah tuntas (mencapai ketuntasan minimal yang ditetapkan oleh sekolah) tidak diperbolehkan untuk mengikuti semester pendek.

 

Kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan yang menyelenggarakan SKS dapat dilakukan pada setiap akhir semester.

 

Peserta  didik  dinyatakan  lulus  dari  satuan  pendidikan  di

 

SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK setelah:

 

1)     menyelesaikan seluruh program  pembelajaran;

 

2)     memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran;

 

3)     lulus ujian sekolah/madrasah; dan

 

4)     lulus Ujian Nasional.


 

 

 

 

 

 


C.    Pihak Yang Terlibat

 

Berdasarkan amanat tersebut, dalam rangka penerapan SKS diatur hal-hal sebagai berikut:

 

1.     Pusat Kurikulum dan Perbukuan membuat model-model penyelenggaraan SKS bagi satuan pendidikan.

 

2.     Direktorat teknis persekolahan membuat dan melaksanakan program pembinaan penerapan SKS sesuai dengan karakteristik masing-masing satuan pendidikan.

 

3.     Dinas pendidikan provinsi dan kabupaten/kota membuat dan melaksanakan program koordinasi dan supervisi penerapan SKS di setiap satuan pendidikan.

 

 

D.    Mekanisme Penyelenggaraan

 

Penyelenggaraan   SKS   di   setiap   satuan   pendidikan   SMP/MTs,

 

SMA/MA, dan SMK/MAK dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan, kelayakan, dan ketersediaan sumberdaya pendidikan bagi keberlangsungan penyelenggaraan SKS secara optimal.

 

Kepala satuan pendidikan menginformasikan terlebih dahulu kepada seluruh komunitas sekolah (guru, tenaga kependidikan, dan orang tua) sebelum dilaksanakannya penyelenggaraan SKS.

 

 

VII. KONSEP DAN STRATEGI PENILAIAN HASIL BELAJAR A. Konsep Penilaian Hasil Belajar

 

1.  Definisi Operasional

 

Dalam pedoman ini, pengertian penilaian sama dengan asesmen. Terdapat tiga kegiatan yang perlu didefinisikan, yakni pengukuran, penilaian, dan evaluasi. Ketiga istilah tersebut memiliki makna yang berbeda, walaupun memang saling berkaitan. Pengukuran adalah kegiatan membandingkan hasil pengamatan dengan suatu kriteria atau ukuran. Penilaian adalah proses mengumpulkan informasi/bukti melalui pengukuran, menafsirkan, mendeskripsikan, dan menginterpretasi bukti-bukti hasil pengukuran. Evaluasi adalah proses mengambil keputusan berdasarkan hasil-hasil penilaian.

 

a.     Cakupan Penilaian

 

Dalam Kurikulum 2013, kompetensi inti (KI) dirumuskan sebagai berikut:

 

a)   KI-1: kompetensi inti sikap spiritual.

 

b)   KI-2: kompetensi inti sikap sosial.

 

c)   KI-3: kompetensi inti pengetahuan.

 

d)   KI-4: kompetensi inti keterampilan.

 

b.     Untuk setiap materi pokok tertentu terdapat rumusan KD untuk setiap aspek KI. Jadi, untuk suatu materi pokok tertentu, muncul 4 KD sebagai berikut:

 

1)     KD pada KI-1: aspek sikap spiritual (untuk matapelajaran tertentu bersifat generik, artinya berlaku untuk seluruh materi pokok).



 

2)     KD pada KI-2: aspek sikap sosial (untuk matapelajaran tertentu bersifat relatif generik, namun beberapa materi pokok tertentu ada KD pada KI-3 yang berbeda dengan KD lain pada KI-2).

 

3)     KD pada KI-3: aspek pengetahuan